Suka Duka Masyarakat Nisar Desa Nanga Bere Kec. Lembor Selatan

Kampung Nanga Tangga, Desa Nanga Bere 
(Foto: Bang Edy S)


    Nisar adalah sebuah daerah yang berada disisi selatan Kabupaten Manggarai Barat. Secara administratif Nisar adalah kampung yang berada di Desa Nanga Bere,  Kecamatan Lembor Selatan. Sebutan Nisar sendiri berasal dari nama dari sebuah perkampungan tua atau dalam bahasa lokal Beo Manga. Sebuah perkampungan yang dahulu menjadi sentral atu pusat kampung yang ada di wilayah tersebut. Letaknya berada di kaki  bukit yang oleh masyarakat menyebutnya Golo Pangi (bukit Pangi), sekitar -+5 KM dari pesisir pantai. Kemudian nama itulah yang menjadi sebutan yang familiar hingga dewasa ini. Dalam peta Peta Desa Nanga Bere

        Saat ini, wilayah yang dengan luas 68,80 Km terdiri atas beberapa anak kampung dari sebelah timur yang berbatasan dengan Desa Benteng Dewa yaitu Kampung Wae Raja, Kampung Mbako, Kampung Bangko, Kampung Nipa, Kampung Weko, Kampung Kewitu, Kampung Nanga Tangga dan Kampung Bila.

        Beberapa diantara kampung tersebut berada tidak jauh dari garis pantai seperti kampung Mbako dan Nanga Tangga, sedangkan Kampung Wae Wae Raja dan Kampung Bangko berada sekitar  puluhan hingga ratusan meter dari garis pantai. Meskipun daerah pemukiman masyarakat berada pada daerah pesisir, namun mata pencaharian masyarakat sangat tergantung pada pertanian ladang (Padi, Jagung, perkebunan dll).

        Masyarakat mengandalkan kondisi alam untuk memperoleh hasil maksimal. Seperti pada daerah pesisir pada umumnya mengalami musim yang tidak pasti, termasuk musim hujan atau kemarau yang berkepanjangan. Metode penanaman juga mengikuti iklim yang terkadang berubah (kurangnya curah hujan tahunan, hama dan angin kencang). Selain berprofesi sebagai petani mata pencaharian lainnya  adalah nelayan, pekerja konstruksi, memanen madu hutan, mengelola kios dan terkadang berburu juga berternak. Hama yang menyerang tanaman bisa dibaca pada Hama menyerang lahan pertanian masyarakat Nisar

Warga sedang mengembala ternak

        Hasil pertanian dan perkebunan atau untuk berbelanja untu kebutuhan masyarakat biasanya akan dijual  dan membeli di pasar Lembor.  Kegiatan transaksi bergantung pada moda transportasi laut sejak beberapa puluhan tahun lalu. Saat cuaca buruk / angin kencang, kapal tidak akan beroperasi. Laut Sawu atau pantai selatan ini, terkenal akan keganasan ombak lautnya. Salah satu contohnya bisa dibaca Kecelakaan kapal motor di pelabuhan Nangalili
        
        Transportasi laut atau perahu motor akan berangkat pada hari Rabu akan kembali pada hari kamis dengan tarif 25.000/orang dewasa. Kedua hari tersebut menjadi hari dimana perahu motor beroperasi dengan tarif standart/normal. Jika ada yang akan pergi atau pulang dari Nisar diluar jadwal tersebut akan dikena tarif  _+ Rp 500-700/perahu tergantung situasi dan kondisi. Tarif tersebut hanya berlaku pada daerah tujuan pelabuhan Nangalili dengan jarak tempuh 1 hingga 1,5 jam perjalanan menggunakan perahu motor yang dibekali dua buah mesin diesel.
       
       Selain daerah tujuan Nangalili Kapal Motor tersebut juga beroperasi pada tujuan pelabuhan Labuan Bajo jika dibutuhkan dengan jarak tempuh 4 jam perjalanan. Selain menggunakan moda transportasi laut masyarakat juga menggunakan moda transportasi darat roda dua maupun roda empat dengan kondisi jalan yang belum beraspal. Titik start dari pelabuhan Nangalili dipenyebrangan masyarakat Desa Benteng Dewa tepatnya di kampung Joneng. Jarak tempuh jika menggunakan moda transportasi 1,5 hingga 3 jam dalam perjalanan mengingat jalan belum beraspal, melewati jalan yang terjal dan bebatuan, hutan belantara dan sabana yang luas. Bisa dibaca pada postingan sebelumnya Jalan Neraka di Nisar, Desa Nanga Bere

        Selain dikases melalui Nangalili juga bisa melalui Kecamatan Sano Nggoang yaitu dari Kampung Wae Racang Desa Mata Wae dengan jarak tempuh 2 hingga 3 jam dalam perjalanan.

Suasana pelabuhan hari pasar

        Namun tidak semua moda transportasi bisa digunakan secara bersamaan mengingat berbagai kendala yang dihadapi seperti kapal motor terkendala dengan cuaca dan jalur darat pada musim hujan tidak bisa dikases karenkan licin dan badan jalan yang dipenuhi oleh bebatuan. Pada saat tertentu kedua moda transportasi tidak bisa digunakan, salah satu alternatif yang bisa digunakan adalah dengan berjalan kaki dengan jarak puluhan kilometer.

            Kalau bisa berandai ya, jikalau jalan sudah beraspal dan dibangun jembatan penyebrangan di Wae Gajong antara Desa Benteng Dewa dan Desa Nangalili maka tidak ada alasan untuk masyarakat bisa sejahtera lahir dan batin. Beberapa waktu lalu si Bapak Bupati waktu masih calon sempat kok, merasakan nikmatnya jalan tersebut. semoga saja.






Komentar

Ejor mengatakan…
Beo Weko mengingatkan saya ketika masih esde diajak haring ikan wa Maura tacik.Alam yang Indah ase,bercirikan nuansa timur Indonesia yang otentik
But time had brought us long way ahead,till today.
Teringat lagi kebaikan kae saya diNisar,an awesome simple man but he has a gold heart.selamat Jalan kae,biarkan perjalanan kita di dekat tanjung Krita,dibawah pohon perdu rumah lebah madu,perjalanan kita melewati ngalor yang penuh tanduk rusa dan kerbau yang berakhir malang,pelajaran berburu wa lupi Bawe,dan ramah senyum Tulus ase kae.
One day saya akan kembali,tapi tidak dengan kenangan yang pernah kita lewati
Love
Bang DiL mengatakan…
Terimakasih. Semoga dipertemukan kembali

Postingan Populer